Keberhasilan sebuah proyek tidak hanya ditentukan oleh apakah proyek selesai tepat waktu dan sesuai anggaran. Kualitas hasil proyek juga menjadi indikator penting karena menentukan apakah deliverable benar-benar memenuhi persyaratan, spesifikasi, kebutuhan pengguna, serta ekspektasi stakeholder.
Inilah yang menjadi fokus Project Quality Management atau manajemen mutu proyek.
Dalam praktiknya, kualitas tidak seharusnya baru diperiksa ketika proyek hampir selesai. Kualitas perlu direncanakan sejak awal, diterapkan sepanjang pelaksanaan proyek, diukur menggunakan indikator yang jelas, kemudian dikendalikan dan diperbaiki apabila ditemukan penyimpangan.
PMI menjelaskan bahwa project quality management mencakup proses yang memastikan proyek memenuhi kebutuhan yang menjadi dasar pelaksanaannya. Pendekatan kualitas juga mencakup quality planning, quality assurance, dan quality control.
Dengan demikian, Project Quality Management bukan sekadar kegiatan inspeksi. Manajemen mutu mencakup bagaimana organisasi:
- menetapkan standar kualitas;
- menentukan indikator mutu;
- merancang proses untuk memenuhi standar;
- memastikan proses dijalankan secara konsisten;
- memeriksa hasil pekerjaan;
- mengidentifikasi ketidaksesuaian;
- melakukan tindakan korektif;
- mencegah masalah yang sama terjadi kembali; dan
- meningkatkan proses proyek secara berkelanjutan.
Apa Itu Project Quality Management?
Project Quality Management adalah pendekatan sistematis untuk merencanakan, memastikan, mengendalikan, dan meningkatkan kualitas proses serta hasil suatu proyek agar sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan.
Kualitas proyek dapat berkaitan dengan berbagai aspek, seperti:
| Aspek | Contoh |
|---|---|
| Produk | Spesifikasi produk sesuai kebutuhan |
| Layanan | Tingkat layanan memenuhi standar |
| Proses | Prosedur kerja dijalankan sesuai ketentuan |
| Waktu | Deliverable selesai sesuai standar dan jadwal |
| Biaya | Hasil dicapai tanpa pemborosan yang tidak diperlukan |
| Kepatuhan | Memenuhi regulasi, kontrak, dan standar organisasi |
| Dokumentasi | Dokumen lengkap, akurat, dan dapat ditelusuri |
| Keselamatan | Pekerjaan memenuhi standar keselamatan |
| Kepuasan pengguna | Hasil proyek memenuhi kebutuhan stakeholder |
Artinya, kualitas tidak hanya berarti “hasilnya bagus”. Kualitas harus memiliki kriteria yang dapat dijelaskan dan, sebisa mungkin, diukur.
Dalam salah satu pembahasan PMI, quality metric ditekankan sebagai kriteria yang dapat diukur sehingga pencapaian suatu requirement tidak hanya dinilai secara subjektif.
Mengapa Project Quality Management Penting?
Tanpa sistem manajemen kualitas yang baik, proyek dapat mengalami masalah meskipun selesai tepat waktu.
Contohnya, sebuah proyek pembangunan dapat selesai sesuai jadwal tetapi hasil konstruksinya tidak memenuhi spesifikasi. Proyek pengembangan aplikasi dapat diluncurkan tepat waktu tetapi memiliki banyak bug. Proyek pengadaan dapat selesai secara administratif tetapi barang yang diterima tidak memenuhi spesifikasi teknis.
Karena itu, terdapat beberapa alasan utama mengapa manajemen mutu harus menjadi bagian dari project management.
1. Memastikan Deliverable Sesuai Requirement
Setiap proyek memiliki output tertentu. Project Quality Management membantu memastikan output tersebut memenuhi persyaratan yang sudah disepakati.
2. Mengurangi Defect dan Rework
Kesalahan yang ditemukan terlambat biasanya membutuhkan biaya dan waktu lebih besar untuk diperbaiki.
Pengendalian kualitas sejak awal dapat membantu mengurangi kemungkinan terjadinya:
- pekerjaan ulang;
- pemborosan material;
- keterlambatan;
- komplain pengguna;
- perubahan pekerjaan yang tidak perlu;
- biaya tambahan.
3. Meningkatkan Kepuasan Stakeholder
Stakeholder tidak hanya mengharapkan proyek selesai. Mereka mengharapkan hasil yang sesuai kebutuhan dan dapat digunakan sebagaimana mestinya.
4. Mendukung Kepatuhan
Dalam proyek yang melibatkan kontrak, regulasi, standar teknis, atau pengadaan pemerintah, kualitas juga berkaitan dengan pemenuhan persyaratan formal.
5. Meningkatkan Efisiensi
Quality management yang baik tidak berarti menambah pemeriksaan tanpa batas. Justru tujuannya adalah membangun proses yang mampu menghasilkan output berkualitas secara konsisten.
Tiga Komponen Utama Project Quality Management
Dalam pendekatan project quality management yang banyak digunakan, kualitas dapat dipahami melalui tiga komponen utama:
Quality Planning → Quality Assurance → Quality Control
Ketiganya saling berhubungan.
1. Quality Planning
Quality Planning merupakan tahap menentukan standar kualitas yang relevan dengan proyek dan bagaimana standar tersebut akan dipenuhi.
Pada tahap ini project team perlu menjawab beberapa pertanyaan:
- Apa standar kualitas proyek?
- Apa requirement yang harus dipenuhi?
- Bagaimana kualitas akan diukur?
- Siapa yang bertanggung jawab?
- Kapan pemeriksaan dilakukan?
- Dokumen apa yang harus disiapkan?
- Apa kriteria penerimaan?
- Bagaimana ketidaksesuaian akan ditangani?
Hasilnya kemudian menjadi dasar bagi pelaksanaan manajemen kualitas selama proyek berlangsung.
PMI menjelaskan bahwa quality planning mencakup kualitas dari end product sekaligus kualitas proses yang digunakan untuk mengelola pekerjaan proyek.
Contoh Quality Planning
Misalnya perusahaan menjalankan proyek pembangunan gedung.
Quality planning dapat menentukan:
| Area | Standar/Kriteria |
|---|---|
| Material | Sesuai spesifikasi kontrak |
| Beton | Memenuhi standar kekuatan yang ditentukan |
| Instalasi | Sesuai desain teknis |
| Keselamatan | Memenuhi prosedur K3 |
| Dokumentasi | Setiap hasil pengujian terdokumentasi |
| Pemeriksaan | Dilakukan pada titik yang telah ditentukan |
| Penerimaan | Berdasarkan acceptance criteria |
Dengan demikian, kualitas tidak ditentukan setelah pekerjaan selesai.
2. Quality Assurance
Quality Assurance (QA) berfokus pada proses yang digunakan untuk memastikan proyek mampu memenuhi standar kualitas.
QA lebih bersifat preventif dan sistematis.
Pertanyaan utamanya bukan hanya:
“Apakah hasil pekerjaan sudah benar?”
Tetapi juga:
“Apakah proses yang kita gunakan mampu menghasilkan pekerjaan yang benar secara konsisten?”
PMI menggambarkan Quality Assurance sebagai proses yang lebih berorientasi pada evaluasi keseluruhan kinerja dan proses untuk memberikan keyakinan bahwa standar kualitas yang relevan dapat dipenuhi.
Aktivitas QA dapat meliputi:
- audit proses;
- review prosedur;
- evaluasi kepatuhan;
- process assessment;
- review dokumen;
- evaluasi penerapan standar;
- analisis penyebab masalah;
- evaluasi efektivitas tindakan korektif;
- continuous improvement.
QA Berfokus pada Proses
Misalnya ditemukan kesalahan berulang dalam sebuah proyek.
Quality Control mungkin menemukan bahwa terdapat banyak output yang salah.
Namun Quality Assurance akan bertanya:
Mengapa kesalahan tersebut terus terjadi?
Apakah:
- SOP tidak jelas?
- pekerja belum mendapatkan pelatihan?
- proses approval terlalu panjang?
- requirement tidak terdokumentasi?
- checklist tidak tersedia?
- tanggung jawab tidak jelas?
Pertanyaan tersebut membantu organisasi memperbaiki sumber masalah, bukan hanya memperbaiki hasil yang sudah salah.
3. Quality Control
Quality Control (QC) berfokus pada pemeriksaan dan pengukuran hasil pekerjaan untuk memastikan kesesuaiannya dengan standar yang ditetapkan.
Jika QA lebih banyak melihat proses, QC lebih banyak melihat hasil dan bukti pengukuran.
Aktivitas QC dapat meliputi:
- inspection;
- testing;
- measurement;
- review;
- verification;
- validation;
- sampling;
- pemeriksaan dokumen;
- pengujian material;
- pemeriksaan hasil pekerjaan.
PMI menjelaskan bahwa Quality Control mencakup pemantauan hasil proyek untuk menentukan apakah hasil tersebut memenuhi standar kualitas yang relevan dan mengidentifikasi cara menghilangkan penyebab kinerja yang tidak memuaskan.
Perbedaan Quality Assurance dan Quality Control
Perbedaan QA dan QC sering menjadi sumber kebingungan dalam pengelolaan proyek.
| Aspek | Quality Assurance | Quality Control |
|---|---|---|
| Fokus | Proses | Hasil |
| Pendekatan | Preventif | Detektif/korektif |
| Pertanyaan | Apakah proses sudah benar? | Apakah hasil sudah sesuai? |
| Aktivitas | Audit, review, evaluasi proses | Inspection, testing, measurement |
| Tujuan | Mencegah masalah | Menemukan dan menangani ketidaksesuaian |
| Waktu | Sepanjang proses | Saat output/hasil perlu diperiksa |
| Contoh | Audit SOP | Pemeriksaan produk |
Keduanya bukan pengganti satu sama lain.
Proyek membutuhkan QA untuk memastikan proses berjalan dengan benar dan QC untuk memastikan hasil yang dihasilkan memenuhi kriteria kualitas.
Quality Management Plan dalam Proyek
Salah satu elemen penting dalam Project Quality Management adalah Quality Management Plan.
Dokumen ini menjelaskan bagaimana kualitas akan dikelola selama proyek.
Isi Quality Management Plan dapat mencakup:
- standar kualitas;
- quality objectives;
- quality metrics;
- acceptance criteria;
- metode inspeksi;
- metode pengujian;
- tanggung jawab QA/QC;
- jadwal pemeriksaan;
- format laporan;
- prosedur penanganan ketidaksesuaian;
- corrective action;
- preventive action;
- mekanisme approval;
- dokumentasi hasil pemeriksaan.
Dengan adanya dokumen ini, seluruh anggota tim memiliki referensi yang sama mengenai standar kualitas proyek.
Quality Metrics: Mengubah Kualitas Menjadi Sesuatu yang Terukur
Salah satu tantangan dalam manajemen kualitas adalah menentukan bagaimana kualitas diukur.
Kualitas sebaiknya diterjemahkan menjadi quality metrics.
Contohnya:
| Area | Quality Metric |
|---|---|
| Software | Jumlah defect |
| Konstruksi | Persentase pekerjaan sesuai spesifikasi |
| Pengadaan | Persentase barang sesuai spesifikasi |
| Pelayanan | Customer satisfaction score |
| Dokumentasi | Persentase dokumen lengkap |
| Produksi | Defect rate |
| Proyek IT | System uptime |
| Pelaksanaan | Persentase pekerjaan lolos inspection |
| Procurement | Persentase material memenuhi acceptance criteria |
Quality metric yang baik harus memiliki indikator yang jelas sehingga tim dapat menentukan apakah target tercapai atau tidak.
Quality Control Tools yang Dapat Digunakan
Pengendalian kualitas membutuhkan data.
Beberapa tools yang dapat digunakan antara lain:
1. Checklist
Digunakan untuk memastikan item pemeriksaan tidak terlewat.
2. Inspection
Pemeriksaan langsung terhadap hasil pekerjaan atau produk.
3. Testing
Pengujian untuk mengetahui apakah produk atau sistem memenuhi persyaratan.
4. Control Chart
Digunakan untuk memantau variasi suatu proses dari waktu ke waktu.
5. Pareto Chart
Membantu menentukan jenis masalah yang memberikan kontribusi terbesar terhadap ketidaksesuaian.
6. Cause-and-Effect Diagram
Digunakan untuk membantu mengidentifikasi kemungkinan penyebab suatu masalah.
7. Scatter Diagram
Dapat digunakan untuk melihat hubungan antara dua variabel.
PMI juga membahas penggunaan run chart, control chart, Pareto chart, dan scatter plot sebagai alat untuk membantu monitoring kualitas dan pengambilan keputusan berbasis data.
Root Cause Analysis dalam Project Quality Management
Menemukan defect bukan berarti masalah sudah selesai.
Tim proyek perlu mengetahui akar penyebab masalah.
Misalnya:
Masalah:
Produk tidak memenuhi spesifikasi.
Jangan berhenti pada:
“Produk harus diperbaiki.”
Pertanyaan berikutnya adalah:
- Mengapa produk tidak sesuai?
- Apakah material salah?
- Apakah supplier tidak memenuhi spesifikasi?
- Apakah prosedur kerja tidak diikuti?
- Apakah instruksi kerja tidak jelas?
- Apakah pekerja belum terlatih?
- Apakah proses inspeksi terlalu terlambat?
Dengan pendekatan root cause analysis, tim dapat menentukan tindakan perbaikan yang lebih tepat.
Nonconformity dan Corrective Action
Dalam proyek, ketidaksesuaian atau nonconformity dapat terjadi.
Contohnya:
- material tidak sesuai spesifikasi;
- dokumen tidak lengkap;
- hasil pengujian tidak memenuhi standar;
- desain tidak sesuai requirement;
- pekerjaan tidak mengikuti metode yang ditentukan;
- output tidak memenuhi acceptance criteria.
Proses penanganannya dapat dilakukan melalui:
Identify → Record → Analyze → Correct → Verify → Close
Artinya:
- Identifikasi ketidaksesuaian.
- Catat dalam dokumentasi.
- Analisis penyebab.
- Lakukan tindakan korektif.
- Verifikasi hasil perbaikan.
- Tutup temuan setelah memenuhi persyaratan.
Penerapan Project Quality Management pada Proyek Konstruksi
Proyek konstruksi merupakan salah satu contoh yang sangat jelas mengenai pentingnya manajemen kualitas.
Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum memiliki berbagai pedoman yang secara eksplisit mengatur Quality Control dan Quality Assurance dalam pekerjaan konstruksi. Salah satunya menjelaskan bahwa sistem manajemen mutu mencakup pengendalian mutu dan jaminan mutu, termasuk material, proses, pemeriksaan, pengujian, workmanship, produk, prosedur, dan dokumentasi.
Dalam praktiknya, quality management dapat mencakup:
- pemeriksaan material;
- pengujian laboratorium;
- pemeriksaan metode kerja;
- inspection;
- dokumentasi foto;
- checklist;
- pengujian hasil pekerjaan;
- laporan mutu;
- penanganan penyimpangan;
- approval;
- final inspection.
Bahkan dalam dokumen Bina Marga, personel pengendalian mutu memiliki tanggung jawab antara lain menjalankan rencana pengendalian mutu, melakukan pengukuran kinerja, menyusun rencana pemeriksaan dan pengujian, memastikan data pengujian terdokumentasi, serta melakukan tindakan perbaikan ketika ditemukan material, proses, atau produk yang tidak memenuhi spesifikasi. (Bina Marga)
Digitalisasi Project Quality Management
Teknologi juga semakin berperan dalam pengelolaan kualitas.
Sistem digital dapat digunakan untuk:
- menyimpan inspection checklist;
- mengelola test result;
- memantau defect;
- membuat dashboard kualitas;
- menyimpan foto bukti pekerjaan;
- melakukan approval digital;
- membuat laporan otomatis;
- melakukan tracking corrective action;
- menyimpan audit trail;
- mengintegrasikan data quality dengan project dashboard.
Sebagai contoh aktual, Direktorat Jenderal Bina Marga pada 2026 menerbitkan Surat Edaran mengenai penerapan Pavement Quality Management System (PQMS) untuk pekerjaan perkerasan jalan. Sistem tersebut mencakup tata kelola data mutu seperti suhu, kepadatan, ketebalan, kadar aspal, hasil uji laboratorium, dan perhitungan faktor pembayaran secara digital dan terintegrasi. (Bina Marga)
Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan kualitas semakin bergerak dari dokumentasi manual menuju data quality management yang terintegrasi.
Project Quality Management dan Project Management Triangle
Kualitas memiliki hubungan erat dengan:
- Scope
- Schedule
- Cost
- Risk
- Resources
- Procurement
- Stakeholders
Perubahan pada satu aspek dapat memengaruhi kualitas.
Contohnya:
Pemangkasan waktu proyek → tekanan pekerjaan meningkat → risiko kesalahan meningkat → kualitas dapat menurun.
Atau:
Pengurangan biaya material → material alternatif digunakan → perlu dilakukan evaluasi apakah tetap memenuhi spesifikasi.
Karena itu, kualitas tidak boleh dikelola secara terpisah dari keseluruhan project management.
Kesalahan Umum dalam Project Quality Management
Beberapa kesalahan yang sering terjadi antara lain:
1. Kualitas Baru Diperiksa di Akhir
Ini membuat biaya perbaikan menjadi lebih besar.
2. Quality Metric Tidak Jelas
Jika kualitas hanya dinilai berdasarkan “bagus” atau “tidak bagus”, hasil evaluasi menjadi subjektif.
3. QA dan QC Disamakan
QA dan QC memiliki fokus berbeda dan seharusnya saling melengkapi.
4. Dokumentasi Tidak Lengkap
Tanpa bukti pemeriksaan, hasil quality control sulit ditelusuri.
5. Masalah Hanya Diperbaiki, Tidak Dicari Akarnya
Tim memperbaiki defect tetapi tidak memperbaiki proses penyebabnya.
6. Quality Team Tidak Dilibatkan Sejak Awal
Kualitas seharusnya direncanakan sejak tahap perencanaan proyek.
7. Terlalu Banyak Pemeriksaan Tanpa Prioritas
Quality management harus efektif. Pemeriksaan harus diarahkan pada area yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan proyek.
Tahapan Praktis Project Quality Management
Organisasi dapat menggunakan alur sederhana berikut:
Tahap 1 — Define Requirements
Identifikasi kebutuhan pengguna, stakeholder, kontrak, spesifikasi, dan regulasi.
Tahap 2 — Define Quality Standards
Tentukan standar yang harus dipenuhi.
Tahap 3 — Develop Quality Plan
Tentukan metrics, metode pemeriksaan, tanggung jawab, jadwal, dan dokumentasi.
Tahap 4 — Implement QA
Pastikan proses proyek dijalankan sesuai standar.
Tahap 5 — Conduct QC
Lakukan inspection, testing, measurement, dan review.
Tahap 6 — Identify Nonconformity
Catat ketidaksesuaian yang ditemukan.
Tahap 7 — Correct and Improve
Lakukan corrective action dan perbaikan proses.
Tahap 8 — Verify and Close
Pastikan tindakan telah efektif dan seluruh temuan dapat ditutup.
Checklist Project Quality Management
Berikut checklist sederhana yang dapat digunakan project team:
| Pertanyaan | Status |
|---|---|
| Apakah requirement sudah terdokumentasi? | ☐ |
| Apakah standar kualitas sudah ditentukan? | ☐ |
| Apakah quality metrics sudah tersedia? | ☐ |
| Apakah acceptance criteria sudah jelas? | ☐ |
| Apakah Quality Management Plan tersedia? | ☐ |
| Apakah PIC QA/QC sudah ditentukan? | ☐ |
| Apakah inspection plan tersedia? | ☐ |
| Apakah hasil pengujian terdokumentasi? | ☐ |
| Apakah nonconformity dicatat? | ☐ |
| Apakah corrective action dilakukan? | ☐ |
| Apakah root cause analysis dilakukan? | ☐ |
| Apakah hasil perbaikan diverifikasi? | ☐ |
| Apakah lessons learned terdokumentasi? | ☐ |
Siapa yang Perlu Memahami Project Quality Management?
Project Quality Management tidak hanya menjadi tanggung jawab Quality Manager.
Kompetensi ini relevan bagi:
- Project Manager;
- Project Management Officer;
- Project Coordinator;
- Quality Manager;
- Quality Assurance;
- Quality Control;
- Engineering;
- Procurement;
- Construction Manager;
- Site Manager;
- Risk Manager;
- Operations Manager;
- Supervisor;
- anggota project team;
- konsultan;
- kontraktor;
- vendor dan supplier.
Kualitas merupakan tanggung jawab bersama karena keputusan dari berbagai fungsi dapat memengaruhi kualitas proyek.
Manfaat Mengikuti Project Quality Management Training
Project Quality Management Training dapat membantu peserta memahami bagaimana membangun sistem pengelolaan kualitas yang lebih terstruktur dalam proyek.
Materi pelatihan dapat diarahkan pada:
- Konsep dasar Project Quality Management.
- Quality Planning.
- Quality Management Plan.
- Quality Assurance.
- Quality Control.
- Quality Metrics.
- Inspection dan Testing.
- Quality Checklist.
- Nonconformity Management.
- Root Cause Analysis.
- Corrective Action.
- Quality Reporting.
- Quality Risk.
- Quality Documentation.
- Continuous Improvement.
Pelatihan juga dapat menggunakan studi kasus agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menghubungkannya dengan situasi proyek yang mereka hadapi.
Hubungan Project Quality Management dengan PROJECT MANAGEMENT TRAINING
Project Quality Management merupakan salah satu kompetensi penting dalam pengelolaan proyek secara menyeluruh.
Ketika quality management dipadukan dengan scope, schedule, cost, risk, procurement, communication, stakeholder, dan resource management, project team dapat memiliki perspektif yang lebih komprehensif dalam mengendalikan proyek.
Untuk mempelajari pengelolaan proyek secara lebih menyeluruh, Anda dapat mengikuti PROJECT MANAGEMENT TRAINING yang membahas berbagai kompetensi penting dalam project management.
FAQ Project Quality Management
1. Apa itu Project Quality Management?
Project Quality Management adalah pendekatan sistematis untuk merencanakan, memastikan, mengendalikan, dan meningkatkan kualitas proses serta hasil proyek agar memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.
2. Apa perbedaan Quality Assurance dan Quality Control?
Quality Assurance lebih berfokus pada proses untuk memberikan keyakinan bahwa standar kualitas dapat dipenuhi, sedangkan Quality Control berfokus pada pemeriksaan dan pengukuran hasil untuk mengetahui kesesuaiannya dengan standar.
3. Mengapa Quality Planning penting?
Quality Planning membantu proyek menentukan standar, indikator, metode pemeriksaan, tanggung jawab, dan kriteria penerimaan sebelum pekerjaan dilaksanakan.
4. Siapa yang bertanggung jawab terhadap kualitas proyek?
Kualitas merupakan tanggung jawab bersama project team. Project Manager, QA/QC, engineer, procurement, vendor, kontraktor, dan stakeholder terkait dapat memiliki peran masing-masing sesuai struktur dan kebutuhan proyek.
Kesimpulan
Project Quality Management bukan sekadar pemeriksaan terhadap hasil pekerjaan. Manajemen kualitas merupakan sistem yang dimulai sejak proyek direncanakan dan terus berjalan sampai hasil proyek diterima.
Empat prinsip penting yang perlu diperhatikan adalah:
Plan the Quality → Assure the Process → Control the Output → Improve Continuously
Perencanaan menentukan standar. Quality Assurance memastikan proses berjalan dengan benar. Quality Control memeriksa hasil berdasarkan data dan kriteria yang telah ditentukan. Sementara itu, continuous improvement memastikan pengalaman dan temuan proyek dapat digunakan untuk meningkatkan proses berikutnya.
Dengan pendekatan tersebut, organisasi tidak hanya berusaha menyelesaikan proyek, tetapi memastikan proyek menghasilkan output yang sesuai kebutuhan, spesifikasi, standar, dan ekspektasi stakeholder.
Tingkatkan Kompetensi Project Team Anda
Kualitas proyek membutuhkan proses yang terstruktur, indikator yang jelas, dokumentasi yang baik, serta tim yang memahami perannya.
PSKN – Pusat Studi & Konsultasi Nasional menyediakan program Project Management Training untuk membantu organisasi meningkatkan kompetensi project team dalam mengelola proyek secara lebih terencana, terukur, dan profesional.
Untuk informasi program pelatihan, jadwal, materi, dan kebutuhan in-house training, hubungi:
PSKN – Pusat Studi & Konsultasi Nasional
Jl. Tanah Abang II No.74A, RT.1/RW.5, Petojo Selatan, Jakarta Pusat 10160
Telp. 021-345 4426
WhatsApp 0812-6660-0643
Email info@trainingpskn.com
Website www.trainingpskn.com
Better People Better Performance

Project Quality Management membantu memastikan mutu proyek melalui perencanaan kualitas, Quality Assurance, Quality Control, dan perbaikan berkelanjutan.
