Pernahkah Anda terjebak dalam lingkaran pikiran yang tidak ada habisnya? Memikirkan kesalahan kecil di masa lalu berkali-kali, atau mencemaskan skenario terburuk di masa depan yang bahkan belum tentu terjadi? Fenomena ini dikenal sebagai overthinking. Di tengah arus informasi yang begitu masif, overthinking telah menjadi “pandemi mental” terselubung yang menurunkan produktivitas dan kualitas hidup banyak orang.
Melalui pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT), kita tidak hanya diajak untuk “berpikir positif”, tetapi didorong untuk berpikir secara rasional. Program ini dirancang sebagai bagian integral dari modul besar Pelatihan Menguasai REBT Mindset di Era Ketidakpastian, yang bertujuan membekali Anda dengan navigasi logika di tengah badai emosi.
Memahami Akar Masalah: Mengapa Kita Overthinking?
Overthinking sering kali dianggap sebagai bentuk kehati-hatian. Namun, secara psikologis, ada perbedaan besar antara berpikir reflektif dengan overthinking. Berpikir reflektif berorientasi pada solusi, sedangkan overthinking berorientasi pada masalah dan sering kali bersifat destruktif.
Dalam perspektif REBT yang dikembangkan oleh Albert Ellis, akar dari overthinking bukanlah peristiwa luar yang kita hadapi, melainkan Keyakinan Irasional (Irrational Beliefs) yang kita pelihara. Kita sering menuntut bahwa dunia harus adil, kita harus selalu sukses, dan orang lain harus memperlakukan kita dengan baik. Ketika kenyataan tidak sesuai dengan tuntutan tersebut, “drama pikiran” pun dimulai.
Mekanisme Drama Pikiran: Model A-B-C
Untuk mematikan drama pikiran, kita harus memahami anatomi emosi melalui model A-B-C:
A (Activating Event): Peristiwa pemicu (misal: pesan singkat tidak dibalas oleh rekan kerja).
B (Belief): Keyakinan Anda tentang peristiwa tersebut (misal: “Dia sengaja mengabaikan saya, saya pasti punya salah, ini akan merusak kerja sama kita”).
C (Consequence): Reaksi emosional dan perilaku yang muncul (misal: Cemas, tidak fokus bekerja, dan mulai menarik diri).
Masalah utama bagi para overthinker berada pada poin B. Pikiran kita cenderung menciptakan narasi yang jauh lebih menyeramkan daripada realitas objektifnya.
Mematikan “Drama Pikiran” dengan Teknik Disputasi
Seni utama dalam REBT adalah Disputasi (D), yaitu proses menantang secara aktif pikiran-pikiran irasional. Kita tidak membiarkan pikiran kita menjadi hakim yang kejam, melainkan menjadi pengacara yang mencari bukti nyata.
Jenis-Jenis Disputasi dalam REBT
| Jenis Disputasi | Pertanyaan Kunci | Tujuan |
| Disputasi Logis | “Apakah pikiran ini masuk akal secara logika?” | Menguji konsistensi penalaran Anda. |
| Disputasi Empiris | “Mana bukti nyata bahwa hal buruk ini pasti terjadi?” | Membandingkan asumsi dengan fakta di lapangan. |
| Disputasi Pragmatis | “Apakah dengan terus memikirkan ini, hidup saya jadi lebih baik?” | Menilai kemanfaatan dari pola pikir tersebut. |
Dengan mengikuti Online Training Stop Overthinking ini, Anda akan dilatih untuk melakukan self-dispute setiap kali pikiran mulai meluas tanpa arah.
Strategi Praktis: Mengubah Tuntutan Menjadi Preferensi
Salah satu penyebab overthinking yang paling akut adalah penggunaan kata “Harus” (Must-urbating).
“Saya harus berhasil dalam presentasi ini.”
“Dia harus menyukai ide saya.”
Dalam logika REBT, kita mengganti tuntutan kaku tersebut menjadi Preferensi Fleksibel:
“Saya ingin sekali berhasil dalam presentasi ini, tapi jika tidak, itu bukan akhir dari dunia.”
“Saya lebih suka jika dia menyukai ide saya, namun jika tidak, saya tetap pribadi yang berharga.”
Perubahan kecil dalam diksi mental ini secara dramatis menurunkan tekanan pada sistem saraf kita, sehingga drama pikiran tidak memiliki ruang untuk tumbuh.
Mengelola Kecemasan di Era Digital
Media sosial dan notifikasi yang tiada henti adalah bahan bakar utama bagi overthinker. Kita sering terjebak dalam social comparison (perbandingan sosial). Penting untuk menyadari bahwa apa yang kita lihat di layar hanyalah bagian kecil yang telah dikurasi.
Pemerintah Indonesia melalui layanan kesehatan jiwa terus mengingatkan pentingnya deteksi dini terhadap gangguan kecemasan. Anda dapat mempelajari lebih lanjut mengenai manajemen kesehatan mental melalui panduan resmi di portal Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan – Kemenkes RI.
Langkah-Langkah Menghentikan Overthinking Saat Ini Juga:
Identifikasi “The Noise”: Sadari saat Anda mulai memikirkan hal yang sama lebih dari tiga kali tanpa ada solusi.
Tuliskan Pikiran Anda: Memindahkan pikiran dari kepala ke kertas membantu Anda melihatnya secara lebih objektif.
Batasi Waktu Khawatir: Berikan waktu 15 menit sehari untuk memikirkan masalah, setelah itu, hentikan dan kembali ke aktivitas nyata.
Fokus pada Kontrol: Pisahkan antara hal yang bisa Anda kendalikan dan hal yang di luar kendali Anda.
Mengapa Memilih Online Training Ini?
Online training ini bukan sekadar webinar satu arah. Kami menggunakan pendekatan simulasi kasus dan latihan mandiri yang terstruktur. Anda akan belajar bagaimana mengaplikasikan Pelatihan Menguasai REBT Mindset di Era Ketidakpastian ke dalam konflik spesifik yang Anda alami sehari-hari, baik di lingkungan kerja maupun hubungan personal.
Kurikulum Singkat Pelatihan:
Sesi 1: Anatomi Overthinking & Identifikasi Keyakinan Irasional.
Sesi 2: Teknik Disputing & Mencari Bukti Realitas.
Sesi 3: Membangun Effective New Philosophy (Filosofi Baru yang Efektif).
Sesi 4: Maintenance: Menjaga Pikiran Tetap Rasional di Bawah Tekanan.
Overthinking adalah kebiasaan, dan seperti semua kebiasaan, ia bisa diubah. Dengan menggunakan logika REBT, Anda tidak lagi menjadi korban dari pikiran Anda sendiri. Anda adalah nahkoda yang menentukan ke mana arah pikiran Anda harus berlayar. Ingatlah bahwa pikiran Anda adalah alat, bukan tuan atas hidup Anda.
FAQ: Pertanyaan Seputar Online Training
1. Apakah REBT efektif untuk semua orang?
Ya, karena REBT berbasis pada logika universal dan filsafat stoikisme yang praktis. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada kesediaan peserta untuk mempraktikkan teknik disputasi secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
2. Apa perbedaan pelatihan ini dengan motivasi pada umumnya?
Motivasi biasanya memberikan lonjakan emosi sesaat (“Anda bisa!”, “Semangat!”). Pelatihan REBT memberikan alat kognitif untuk membedah masalah secara sistematis, sehingga perubahan yang terjadi bersifat permanen karena landasan berpikirnya telah berubah.
3. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melihat hasil?
Beberapa peserta merasakan kelegaan mental segera setelah memahami model A-B-C. Namun, untuk benar-benar menghentikan pola overthinking yang sudah menahun, diperlukan latihan rutin selama 21 hingga 30 hari.
4. Apakah pelatihan ini dilakukan secara live atau rekaman?
Pelatihan ini dilakukan secara interaktif (Live Online) untuk memastikan setiap peserta bisa melakukan simulasi kasus dan mendapatkan umpan balik langsung dari instruktur mengenai cara mendisputasi pikiran mereka.
Jangan biarkan pikiran Anda terus berisik tanpa menghasilkan solusi. Ambil langkah nyata hari ini untuk mendapatkan ketenangan yang layak Anda miliki. Daftarkan diri Anda sekarang di Online Training Stop Overthinking dan mulailah hidup dengan lebih tenang, rasional, dan bahagia. Klik tombol pendaftaran di bawah ini untuk mengamankan slot Anda!
Daftar Sekarang & Ambil Kendali Pikiran Anda

Atasi overthinking dengan Logika REBT. Ikuti Online Training ini untuk mematikan drama pikiran, mengelola kecemasan, dan membangun mentalitas rasional yang tangguh.